Beranda | Artikel
Pengaruh Nama dan Sifat Allah Terhadap Ibadah Seorang Hamba
Kamis, 22 Januari 2026

Pengaruh Nama dan Sifat Allah Terhadap Ibadah Seorang Hamba adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 24 Rajab 1447 H / 13 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Pengaruh Nama dan Sifat Allah Terhadap Ibadah Seorang Hamba

Keyakinan bahwa Allah itu Maha Adil merupakan buah keimanan yang luar biasa. Keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala selaras dengan ilmu-Nya yang sempurna, sementara manusia memiliki ilmu yang sangat terbatas. Keterbatasan ilmu inilah yang terkadang membuat manusia menganggap Allah tidak adil dalam menetapkan suatu perkara. Padahal, banyak hikmah yang tidak diketahui oleh manusia. Oleh karena itu, setiap mukmin wajib meyakini keadilan Allah. Jika akal pikiran merasa ada ketidakadilan, maka yang harus dievaluasi adalah keterbatasan akal manusia itu sendiri, bukan keadilan Sang Pencipta.

Membangun Rasa Takut kepada Allah

Beriman kepada sifat murka Allah terhadap orang-orang yang bermaksiat akan membuahkan ibadah khauf atau rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan dalam Al-Qur’an:

…وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksanya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 196)

Di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperlihatkan sebagian kecil dari kekuatan-Nya melalui berbagai bencana alam yang mengerikan. Peristiwa tsunami yang menghancurkan segala sesuatu, banjir bandang yang melenyapkan desa, hingga letusan gunung berapi dengan lahar yang membakar adalah peringatan nyata. Fenomena tersebut merupakan siksa di dunia agar manusia merasa takut dan menyadari bahwa azab di akhirat jauh lebih berat.

Peringatan dan Kerasnya Hati

Berbagai bencana dan peringatan ilmiah, seperti potensi gempa besar dan tsunami yang diprediksi oleh BMKG, pada hakikatnya adalah cara Allah ‘Azza wa Jalla agar manusia kembali kepada-Nya. Namun, seringkali peringatan tersebut tidak dipedulikan dan kemaksiatan tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Hal ini menunjukkan bahwa hati yang telah keras tidak akan terpengaruh oleh peringatan apa pun. Kesadaran dan penyesalan sering kali baru muncul saat azab yang sebenarnya telah tiba. Di neraka kelak, barulah muncul keinginan untuk kembali ke dunia, namun kesempatan tersebut sudah tertutup. Maka, sudah seharusnya setiap insan segera bertobat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum penyesalan itu datang.

Apabila seorang hamba memiliki keyakinan kuat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Agung, Maha Besar, dan Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, maka keyakinan ini akan membuahkan ibadah berupa ketundukan (khudu’), kepasrahan, serta rasa cinta. Pemahaman terhadap keagungan Allah ‘Azza wa Jalla merupakan fondasi dari seluruh jenis ibadah.

Takbir sebagai Kunci Kekhusyukan

Di dalam shalat, setiap perpindahan gerakan senantiasa diiringi dengan ucapan takbir, Allahu Akbar. Hal ini dilakukan agar hati senantiasa membesarkan Allah. Kekhusyukan muncul ketika hati benar-benar mengagungkan dan merasakan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, kekhusyukan akan sulit dicapai jika di dalam hati terdapat sesuatu yang dianggap lebih besar daripada Allah ‘Azza wa Jalla.

Penyebab utama seseorang sulit meraih kekhusyukan dalam shalat adalah kurangnya pengagungan hati terhadap Allah. Sering kali hati lebih disibukkan dengan urusan dunia, permainan, atau hal-hal lain yang melalaikan. Jika seorang hamba mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan, niscaya rasa takut dan khusyuk akan hadir di dalam jiwanya. Hal ini selaras dengan firman-Nya:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah (kebesaran Allah), karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj[22]: 62)

Keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna dan Maha Indah akan menimbulkan ibadah cinta dan rindu yang mendalam untuk bertemu dengan-Nya. Keindahan Allah dapat terlihat melalui ciptaan-Nya di alam semesta, seperti pemandangan laut, gunung, serta keindahan langit saat matahari terbit maupun terbenam.

Keindahan makhluk merupakan cerminan dari sifat Penciptanya. Jika makhluk ciptaan-Nya tampak begitu indah, maka Sang Pencipta pastilah Maha Indah. Keindahan Allah terpancar dalam segala hal: indah ciptaan-Nya, indah perbuatan-Nya, indah takdir dan ketentuan-Nya, serta indah syariat-Nya. Seluruh perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah lepas dari hikmah dan keadilan.

Kesadaran akan keindahan dan kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla merupakan sebab utama munculnya cinta di dalam hati. Secara tabiat, manusia akan mencintai sesuatu yang memiliki kelebihan atau keindahan. Karena Allah Maha Indah dalam segala sifat dan perbuatan-Nya, maka Dialah yang paling berhak mendapatkan cinta tertinggi dari setiap hamba.

 Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu indah, perbuatan-Nya indah, dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya adalah keindahan. Kesadaran akan hal ini seharusnya mendorong setiap hamba untuk mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus. Seluruh macam ibadah atau penghambaan (ubudiyah) pada hakikatnya berakar dari keimanan terhadap nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengenal nama dan sifat Allah merupakan perkara yang sangat mendesak karena pengetahuan tersebut harus membuahkan ibadah. Menghafal Asmaul Husna tanpa diikuti dengan implementasi ibadah tidaklah memberikan manfaat yang sempurna. Sebagai contoh, ketika seseorang memahami nama Allah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), maka seharusnya muncul sikap-sikap ibadah seperti:

  1. Berharap (Raja’): Hanya menggantungkan keinginan kepada Allah.
  2. Tawakal: Yakin sepenuhnya bahwa Allah yang menjamin rezeki hamba-Nya.
  3. Istiqamah: Memiliki ketegaran untuk meninggalkan perkara haram atau kemaksiatan karena yakin bahwa rezeki tidak ditentukan oleh pekerjaan atau ijazah, melainkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Imam Abu Umar Ath-Thalamanki menjelaskan bahwa kesempurnaan mengenal nama dan sifat Allah terletak pada pemahaman terhadap faedah dan hakikat yang terkandung di dalamnya. Seseorang yang tidak mengetahui faedah dari mengimani nama Allah pada hakikatnya belum berilmu tentang makna nama-nama tersebut dan belum bisa mengambil manfaat dari dzikirnya.

Berilmu tentang Nama dan Sifat Allah Menurut Manhaj Ahlus Sunnah

Memasuki bab ke-23 mengenai ilmu tentang nama Allah, sifat-Nya, serta manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam asma’ wa shifat, ditegaskan kembali bahwa mengimani nama dan sifat Allah adalah bagian terpenting dalam kehidupan. Hal ini merupakan kedudukan agama yang paling tinggi dan agung. Berilmu tentang kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla, sifat-sifat-Nya yang mulia, serta Asmaul Husna adalah jalan menuju kesempurnaan ibadah.

Sifat-sifat agung dan nama-nama Allah yang mulia telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui nama dan sifat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mempelajari dan mengimani ilmu ini merupakan pokok-pokok agama, rukun tauhid, serta dasar dari sebuah keyakinan.

Seseorang tidak mungkin mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan benar tanpa mengenal nama dan sifat-Nya. Keyakinan sebatas bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi juga dimiliki oleh kaum musyrikin terdahulu. Namun, pengenalan yang diinginkan dalam Islam adalah pengenalan yang mendalam sehingga memunculkan rasa cinta, takut, harap, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perintah Mengenal Nama-Nama Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan hamba-Nya untuk mengenal dan mempelajari Asmaul Husna melalui cara yang benar dan shahih. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا…

“Milik Allahlah Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan kebebasan bagi hamba-Nya untuk menyeru nama-Nya yang mana saja:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)’.” (QS. Al-Isra`[17]: 110)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan deretan nama-Nya yang mulia, di antaranya dalam akhir surah Al-Hasyr:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dialah Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan (Al-Mutakabbir). Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr[59]: 23)

Salah satu sifat yang perlu dipahami dengan benar adalah Al-Mutakabbir atau Yang Memiliki Kesombongan/Keagungan. Sifat sombong bagi makhluk adalah tercela karena makhluk tidak memiliki apa pun untuk disombongkan. Kelebihan harta, kedudukan, ilmu, amal, maupun rupa adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena segala kelebihan adalah milik-Nya, maka hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang berhak atas sifat sombong tersebut.

Bagi Allah, sifat sombong merupakan kesempurnaan karena Dialah Pemilik segala sesuatu, sedangkan bagi makhluk, sombong adalah kehinaan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits qudsi:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Maka siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku pasti akan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud)

Seluruh ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib diimani oleh setiap muslim. Ayat-ayat tersebut menunjukkan dengan sangat jelas betapa pentingnya mempelajari serta mengenal nama-nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Agung.

Ibnu Abdul Bar Rahimahullah menegaskan bahwa dalam keyakinan tentang sifat dan nama Allah, tidak boleh ada ketetapan kecuali yang sesuai dengan Al-Qur’an, hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta ijma seluruh ulama. Keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah tidak menyifati atau memberi nama kepada Allah kecuali jika terdapat dalilnya.

Sifat Tauqifiyah dan Keterbatasan Akal

Nama dan sifat Allah bersifat tauqifiyah, artinya penetapannya harus berdasarkan dalil wahyu dan tidak boleh ditetapkan melalui logika atau akal semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang Maha Ghaib, sehingga akal manusia tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya tanpa bimbingan wahyu.

Terdapat kekeliruan ketika manusia mencoba membatasi sifat Allah, misalnya dengan menetapkan sifat wajib hanya berjumlah dua puluh. Kewajiban seorang hamba bukan mengatur atau mewajibkan sifat tertentu bagi Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan cukup mengimani apa pun yang telah Allah kabarkan tentang diri-Nya. 

Sebagian kelompok seperti Asy’ariyah, Maturidiyah, Jahmiyah, maupun Muktazilah sering kali menolak sifat-sifat yang Allah kabarkan karena dianggap tidak masuk akal. Sebagai contoh, ketika Allah mengabarkan tentang istiwa di atas Arasy:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arasy.” (QS. Taha[20]: 5)

Mereka melakukan takwil dengan mengubah makna “bersemayam” menjadi “menguasai” (istawla) karena beranggapan bahwa jika Allah bersemayam, berarti Allah membutuhkan tempat. Padahal, kewajiban hamba adalah mengimani kabar tersebut tanpa menolak dengan akal atau mentakwilkan ayat sesuai keinginan sendiri dengan dalih majas atau qiyasan.

Demikian pula saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Dia yang menurunkan Al-Qur’an:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadr[97]: 1)

Makna “menurunkan” secara lahiriah adalah dari atas ke bawah. Namun, pihak yang menolak sifat ketinggian Allah sering kali mengalihkan maknanya. Padahal, banyak dalil yang menunjukkan bahwa amalan dan kalimat yang baik itu naik menuju Allah ke arah atas:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan akan diangkat-Nya.” (QS. Fatir[35]: 10)

Sebagian kalangan menganggap bahwa ayat-ayat yang tidak sesuai dengan akal pikiran memiliki lahiriah yang kufur sehingga harus dihukumi sebagai majas atau qiyasan. Padahal, jika setiap ucapan dipahami hanya sebagai qiyasan, maka manusia akan mengalami kesulitan besar dalam memahami maksud sebuah pesan. Sebagai ilustrasi, ketika seseorang memberikan perintah yang jelas namun dianggap sebagai qiyasan oleh penerima pesan, maka tujuan dari komunikasi tersebut tidak akan pernah tercapai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an dengan tujuan agar mudah dipahami oleh seluruh manusia. Kemudahan pemahaman inilah yang menjadi hujjah bagi umat manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling fasih dan paling mampu memberikan pemahaman. Apabila sabda-sabda beliau dianggap sekadar qiyasan, maka umat akan terjebak dalam kesulitan untuk memahami syariat.

Download MP3 Kajian Tentang Pengaruh Nama dan Sifat Allah Terhadap Ibadah Seorang Hamba


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55983-pengaruh-nama-dan-sifat-allah-terhadap-ibadah-seorang-hamba/